Warisan yang Hidup: Peran Komunitas dalam Pelestarian Borobudur

MDW BOROBUDUR -Pelestarian warisan budaya tidak dapat berjalan efektif tanpa keterlibatan masyarakat. Borobudur, sebagai situs yang memiliki nilai global, tetap berakar pada konteks lokal yang hidup di sekitarnya. Komunitas menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan, karena mereka adalah pihak yang paling dekat dan paling terdampak oleh perubahan yang terjadi.

Dalam banyak kasus, pelestarian sering dipandang sebagai tanggung jawab institusi formal. Padahal, praktik sehari-hari masyarakat—cara mereka memahami, merawat, dan berinteraksi dengan situs—memiliki pengaruh yang besar terhadap kondisi jangka panjang. Ketika masyarakat dilibatkan secara aktif, pelestarian tidak lagi menjadi program, tetapi menjadi budaya.

Komunitas juga berperan sebagai penghubung antara pengetahuan akademik dan realitas lapangan. Mereka dapat menerjemahkan konsep-konsep pelestarian ke dalam tindakan yang relevan dan kontekstual. Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam Borobudur tidak hanya dipelajari, tetapi juga dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Membangun kesadaran kolektif menjadi langkah awal yang penting. Ketika masyarakat merasa memiliki, mereka akan lebih terdorong untuk menjaga. Di sinilah pelestarian menemukan bentuknya yang paling kuat—bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai komitmen bersama untuk merawat warisan yang tidak tergantikan.(mdwborobudur.tim)

1 thought on “Warisan yang Hidup: Peran Komunitas dalam Pelestarian Borobudur”

  1. Yang disayangkan kemenbud kok begitu mudah nya menyetujui apa yg diminta oleh yang punya ‘kekuasaan’..
    Saya secara pribadi jelas kecewa thdp oknum ‘Oligarkhi’ yang sudah jelas melanggar konsep preservasi dan konservasi yang selama ini didengung dengungkan semua Pemangku Kepentingan atas keberadaan candi Borobudur dan Ironi nya Kemenbud kok justru meng ‘Aamiin’ permintaan ‘oligarkhi tsb.
    Sebgaimana diketahui..terdapat beberapa Sekt3/Aliran agama Budha, khusus nya di Indonesia dan bbrp dr Sekte tsb sesunguhnya tidak menyetujui pemasangan Chattra di stupa induk tsb.
    Seharus nya pemerintah pusat, melalui Kemenbud menolak pemasangan Chattra, bukan men-support. Apa kata dunia dan Unesco jika nanti akhir nya Chattra itu dipasang..?! Apakah candi tetap akan bisa dipergunakan utk kebudayaan, pendidikan, pariwisata dan keagamaan, atau nanti hanya utk saudara2 kita dari umat Budha saja yg bisa ‘ menikmati ‘ candi Borobudur..?!?! Bagaimana dgn masyaralat lokal Borobudur yang punya nilai2 historis dan spiritual thdp candi..??
    Atau memang sudah dari dulu ada ‘kepentingan ‘ dr oknum2 Okigarkhi’ yang berlindung dibawah Perpres No. 101/ Thn 2024 Ttng Tata Kelola Candi Borobudur yang dgn sengaja ‘menitip’ pembatasan jumlah pengunjung dgn target utama nya hanya utk Pilgrim (keagamaan ) dan kebudayaan ?!?!?!
    atau jawaban atas semua permasalahan pemasangan Chattra yang lagi ‘hangat ‘ ini diamkan saja??!!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *